Budaya Siri’ Na Pacce dan Sipakatau dalam Interaksi Sosial Masyarakat Sulawesi Selatan

Authors

  • Auliah Safitri Department of Civic Education, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta
  • Suharno Suharno Department of Civic Education, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.25077/jantro.v22.n1.p102-111.2020

Keywords:

Siri’ Na Pacce, Sikapatau, Social Interaction

Abstract

The plurality of Indonesian, beside of becoming a property, also becoming a boomerang for the unity of a nation. The conflict that arises will not resolve if they are left casually. The disputes can be overcome and avoided if the society can build positive social interaction among fellow. Therefore, in facing conflicts, it is necessary to realize that an ethnic group is not a social group that must be considered by, however, a local knowledge that is store in a culture of ethnic groups. This research aims to determine the social interaction of South Sulawesi’s communities, namely the ethnic of Bugis, Makassar, Mandar, and Toraja. Those four ethnics have had cultural characteristics that have been being a customs and philosophies of their lives because they have normative elements values that can bind their members. This research is compiled through a literature study in which the data obtained from various books and journals. The result reveals that the ethnics of South Sulawesi have been building social interaction based on the culture of Siri’ Na Pacce and Sipakatau, which are the main foundation in building positive communication among fellow. Those cultures must be well implemented and maintained in building social interaction.

References

Ahmad, Nyarwi. (2008). Kampanye Negatif dalam Pilkada: Kajian Bulanan No.11 Maret 2008. Jakarta: PT. Lingkaran Survey Indonesia.

Alatas, Salim. (2010). Politik Aliran dalam Pemilu 2009 (Studi atas Political Marketing Partai Keadilan Sejahtera). Jurnal Kom dan Realitas Sosial. 1 (1): 37-48.

Angga. (2017). Rukun Sampai Mati: Dalihan na Tolu sebagai Wadah Relasi Antar Umat Beragama yang Toleran. Prosiding Seminar Nasional, 17-20 Juli 2019 dengan tema “Merajut Kebhinekaan, Membangun Indonesia: Perspektif Sejarah dan Budayaâ€. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY.

Appiah, Kwame Anthony (2006), The Politics of Identity, Daedalus, 135 (4): 15-22.

Burhan, O. K., & Sani, J. (2013). Prasangka Terhadap Etnis Tionghoa di Kota Medan: Peran Identitas Nasional dan Persepsi Ancaman. Jurnal Psikologia. 8 (1): 25-33.

Caplan, Bryan. (2008). The Myth of the Rational Voter Why Democracies Choose Bad Policies - New Edition. New Jersey: Princeton University Press.

Faraidiany, Maghfira. (2016). Politik Identitas Etnis Tionghoa di Indonesia. Jurnal Politeia. 8 (2): 74-82.

Fikri, M. Sirajudin & Oktario, Nico A. (2018). Politik Identitas dan Penguatan Demokrasi Lokal (Kekuatan Wong Kito dalam Demokrasi Lokal). Tamaddun: Jurnal Kebudayaan dan Sastra Islam. 18 (2): 172-185.

Haboddin, Muhtar. (2012). Menguatnya Politik Identitas di Ranah Lokal. Jurnal Studi Pemerintahan. 3 (1): 116-134.

Harahap, Abdi Syahrial dan Abdurrahman, Syed. (2014). Etnik Tionghoa di Bandaraya Medan: Kajian Tentang Pandangan Mereka Terhadap Agama Islam. Jurnal Analytica Islamica. 3 (1): 134-151.

Presiden Republik Indonesia. (1998). Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1998 Tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non Pribumi. Jakarta.

Ma’arif, Ahmad Syafii. (2012). Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita. Jakarta: Democracy Project.

Marzuki. 2019. Kontribusi Ulama dalam Pemenangan Pasangan Edy Rahmayadi–Musa Rajekshah Pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara Tahun 2018 di Kota Medan. Tesis (Tidak Diterbitkan). Medan: UIN Sumatra Utara.

Muda, Indra. 2013. Potensi Konflik Horizontal di Kota Medan. Jurnal Perspektif. 6 (2): 138-144.

Purbasari, Verbena Ayuningsih dan Suharno. (2019). Interaksi Sosial Etnis Cina-Jawa Kota Surakarta. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya. 21 (1): 1-9.

Purnaweni, Hartuti. 2004. Demokrasi Indonesia: Dari Masa ke Masa. Jurnal Administrasi Publik. 3, (2): 118-131.

Putra, Dharma Kelana. (2010). Potensi Konflik Komunitas Jawa Muslim Terhadap Etnis Berbeda dan Penganut Agama Lain di Kota Medan Tahun 2010. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Medan: Universitas Sumatra Utara.

Sopian. (2011). Pengaruh Kampanye Negatif dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Tangerang Selatan (Tangsel) 2011. Skripsi (Tidak diterbitkan). Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Suparlan, Parsudi. (1994). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Susanto, Agus. (2018). Pola Komunikasi Masyarakat Muslim Melayu dan Tionghoa (Studi Terhadap Penyelesaian Konflik di Kota Tanjungbalai). Tafaqquh: Jurnal Penelitian dan Kajian Keislaman. 6 (1): 2-27.

Sutisna, Agus & Akbar, Idil. (2018). Dampak Elektoral Kasus Dugaan Penistaan Agama terhadap Preferensi Politik Warga Banten pada Pilgub 2018. Politik. 15 (2): 161-178.

Xiaomei, Zhan. (2014). Political Identity: A Perspective from Cultural Identity. Journal Social Sciences in China. 35 (2): 155-173.

Downloads

Published

2020-05-31

How to Cite

Safitri, A., & Suharno, S. (2020). Budaya Siri’ Na Pacce dan Sipakatau dalam Interaksi Sosial Masyarakat Sulawesi Selatan. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 22(1), 102–111. https://doi.org/10.25077/jantro.v22.n1.p102-111.2020

Issue

Section

Articles