Perubahan Pola-Pola Perkawinan pada Masyarakat Lampung Saibatin

Author(s)
Ali Imron (Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Lampung, Lampung)
Rinaldo Adi Pratama (Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Lampung, Lampung) Orcid ID
Abstract

This article discusses the marriage system that occurred in the Lampung Saibatin community. This study examines how the marriage system change based on their own needed. This study was an ethnography research that would be described qualitatively, this is intended because the concern of the research is the way of life of the Lampung Saibatin community. The results showed that the Lampung Saibatin marriage in the 1970s underwent a change from a very strong Bujujogh with patrilineal to a Semanda marriage system. Lampung Saibatin community develops a new marriage system using Semanda which is an influence of the Minangkabau people, this is done by Lampung Saibatin people because they are reluctant to be called a failed family or ”mupus”. This study sees that the changes that occur due to two vital elements are that emerge from within the Saibatin community itself which includes privilege and economy. Meanwhile, external factors are new cultures that come from other people, get a better education and government policy.

Keywords
Lampung; Saibatin; Pepadun; Bujujogh; Semanda
Klik untuk membaca artikel penuh
Pdf
References

Abdullah, Kantan. (1978). Pola Perkawinan Menurut Adat Lampung Pepadun. Peter McDonald dan Kasto (eds), dalam Kumpulan Kertas Kerja: Lokakarya Pola Perkawinan, Yogyakarta, Lembaga Kependudukan Gadjah Mada, hal. 44-58

Abdurrahman, E. H. (1978). Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pola Perkawinan di Jawa Barat. Peter McDonald dan Kasto (eds) dalam Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah Kependudukan Pola Perkawinan di Beberapa daerah di Jawa Barat, Bandung; PSK Lembaga Penelitian Univeritas Pajajaran, hal. 50-66.

Adatrechtbundels, XXXII Zuid-Sumatera (1930); 20, seri I No. 88 Zelfstandigie pasar’s in Bengkuloe (1921 –1922).

Anakotta, R., Alman, & Solehun. (2019). Akulturasi Masyarakat Lokal dan Pendatang di Papua Barat. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya. Vol. 21(1), 29-37.

Arifin, Z. (2009). Dualitas Praktik Perkawinan Minangkabau. Humaniora. Vol. 21(2), 150-161.

Baharudin, M., & Luthfan, M. A. (2020). Aksiologi Religiusitas Islam pada Falsafah Hidup Ulun Lampung. International Journal Ihya''Ulum al-Din, 21(2), 158-181.

Beele, B. S. (1868). Les manuscrits Lampongs, Publies par H.N. Van Der Tuuk, Bandarlampung, diterjemahkan oleh Razi Arifin, SH.

Fattah, B. & A. Rahmatan. (1993). Tangguh Rasan Buhimpun, Bandar Lampung, Gunung Pesagi.

Febra, A. (2015). Sistem Pewarisan Masyarakat Adat Saibatin Dalam Keluarga Yang Tidak Mempunyai Anak Laki-Laki (Studi Di Kota Bandar Lampung (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Firnando, F. (2019). Muatan Nilai-Nilai Islam Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Lampung Saibatin Desa Suka Negeri Jaya Kecamatan Talang Padang Kabupaten Tanggamus (Doctoral Dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat-Budaya Lampung, Bandung, Mandar Maju.

Hasran, Jamiluddin, & Haq, P. (2016). Perubahan Makna dan Nilai Fitu Kabintingia Dalam Proses Perkawinan Adat Muna (Studi di Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna). HISTORICAL EDUCATION: Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah. Vol. 1(1), 127-139.

Hidayat, D. (2016). Konstruksi Gender Dalam Perkawinan Nyakak Dan Semanda Di Masyarakat Adat Saibatin Lampung. Jurnal Liski (Lingkar Studi Komunikasi), 2(1), 1-28.

Hoesen, K. (1938). Oendang-Oendang Adat Lembaga Ordrafdeeling Kroë 1912. dalam Koempoelan Oendang-Oendang Adat Lembaga; Dari Sembilan Orderafdeelingen, Benkoelen, Drukkerji ”TJAN”.

Imron, A. (2005). Pola Perkawinan Saibatin. Bandar Lampung: Universitas Lampung.

Isnaeni, A. & Hakiki, K. M. (2016). Simbol Islam dan Adat dalam Perkawinaan Adat Lampung Pepadun. Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam. Vol. 10(1), 193-222.

Jacobson, David. (1991). Reading Ethnography, State University of New York Press.

Kurniawan, A. & Rudyansjah, T. (2016). Kajian Mengenai Perubahan Afiliasi Pada Sistem Organisasi Sosial Masyarakat Lematang. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya. Vol. 18(2), 89-103.

Nugroho, A. T. 2019. Seserahan Dalam Perkawinan Masyarakat Adat Lampung. Sabda. Vol. 14(1), 31-41.

Pramudita, R.O., Aprilianti, & Nurhasanah, Siti. (2018). Penyelesaian Kawin Lari (Sebambangan) Pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin di Kecamatan Gunung Alip, Tanggamus. Pactum Law Journal. Vol. 1(2), 129-136.

Roveneldo. (2017). Prosesi Perkawinan Lampung Pepadun: Sebagai Bentuk Pelestarian Bahasa Lampung. Ranah:Jurnal Kajian Bahasa. Vol. 6(2), 220-234.

Sayuti, H., Shalfiyanti, & Imron, A. (1998). Sejarah Lokal Propinsi Lampung: Dinamika Masyarakat Dalam Pembentukan Proponsi Lampung, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Spradley, J. P. (1997). Metode Etnografi, Terj. Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Comments on this article

View all comments

StatisticsStatistik Artikel

Artikel ini sudah dibaca : 160 kali
Dokumen Pdf sudah dibaca/diunduh : 3 kali