Keberagaman Hubungan Budaya Antara Suku Dayak dan Suku Banjar di Kalimantan

Author(s)
Lena Selvia (Department of Civic Education, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta)
Sunarso Sunarso (Department of Civic Education, Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta)
Abstract
Indonesia has a geographically vast area which results various daily ways of life and living habits that shapes culture and custom diversity. Indonesia consists of thousands of developing customs and tribes. The diversity of local customs and cultures in society contributes to social interaction among one tribe to another. The purpose of this study is to describe the cultural diversity found in the Dayak and Banjar tribes of Borneo. Each tribe has a unique culture with its own distinct as an identity to keep its existence, such as the cultural diversity of Dayak and Banjar tribes in Borneo that can affect relationships between the two tribes. The article used literary methods by collecting relevant reference sources from books, journals, researches, and other resources. The results show that diversity can cause conflict, even though conflict have occurred, it does not mean that the Dayak and Banjar tribes are intolerant. Each tribe has a strong culture and mutual cooperation to protect unity. They live on the same island with mutual respect and they respect cultural diversity. The interaction between the Dayak and Banjar tribes that appreciate each other's customs and cultures preserve the culture itself. The customs and cultures that developed in the Dayak and Banjar tribes serve as a source of harmony, with an understanding that they came from the same ancestors, and the awareness that they have a brotherly relationship contributes to values of trust, tolerance, and mutual cooperation between the tribes.
Keywords
Culture; Tribe; Interaction; Dayak; Banjar
Klik untuk membaca artikel penuh
Pdf
References

Alfian, Muhammad (2014). Regulasi Emosi pada Mahasiswa Suku Jawa, Suku Banjar, dan Suku Bima. Junral Ilmiah Prikologi Terapan. Malang.

Aman, Rahim, Zulkifley Hamid dan Shahidi Hamid. (2012). Profil Pemikiran Banjar: Satu Kajian Perbandingan antara suku Banjar di Malaysia dan di Indonesia. Geografia Online. Malaysia Journal of Society and Space.

Ave, Jan B. and Victor T, King. (1986). Borneo: The People of The Weeping Forest; Tradition and Change in Borneo. Leiden, National Museum of Ethnology.

Darmadi, Hamid. (2016). Dayak Asal- Usul dan Penyebarannya di Bumi Borneo. Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Islam. volume 03 (02). 322- 340.

Depi, Ilahi. (2020). Eksistensi Yerhadap Budaya Banjar pada Kisdap Pilangur. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Universitas ISlam Sultan Agung. Jurnal.unissula.ac.id

Elisten. (2015). Kekerabatan Bahasa Tamuan, Waringin, Dayak Ngaju, Kadorih, Maayan, dan Dusun Lawangan. Kandai. Volume 11 (01). 1-14.

Elok & Taufik, (2019). Pemaknaan dan Konsekuensi Budaya Tato Pada Suku Dayak. Jurnal Insight Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember. Volume 15 (02). 213- 219.

Fridolin Ukur Biography. 2019. bpkgunungmulia.com.

Bumilang, G. S. 2015. Urgensi Kesadaran Budaya Konselor dalam Melaksanakan Layanan Bimbingan dan Konseling untuk Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jurnal Guidena, 5(2), 45-58.

Haryanto. (2018). Nilai Kerukunan pada Cerita Rakyat Dayunan- INtingan di Kabupaten Tapin KAlimantan Selatan. Jurnal SMaRT: Studi Masyarakat, Religi dan Tradisional. Volume 04 (01).

Hasan. (2016). Islam dan Budaya Banjar di Kalimantan Selatan. Ittihad: Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan. Volume 14 (25). 78- 90.

Hasuna & Lismayanti. (2017). Madihin Sebagai Kesenian Tradisional bai Masyarakat Banjar. Lentera: Jurnal Ilmiah Kependidikan. Volume 12 (01). 38-50.

Hendraswati. (2016). Etos Kerja Pedagang Perempuan Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Volume 01 (01). 97- 115

Ibnu Elmi & Jefri Tarantang. (2018). Interkoneksi Nilai- Nilai Huma Betang Kalimantan Tengah dengan Pancasila. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Volume 14 (02). 119-126.

Imadduddin Parhani. (2016). Perubahan Nilai Budaya Urang Banjar (dalam Teori Troompenaar). Al- Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu- ILmu Keislaman. Volume 15 (01). 27- 56.

Istiqomah Ermina dan Sudjatmiko Setyobudihono. 2014. Nilai Budaya Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan: Studi Indigenous. Jurnal Psikologi Teori Terapan. No. 1, 1-6, ISSN: 2087-1708

Iwan Aflanie dan Haifa Madina, (2017). Perbandingan Karakteristik Pla Rugal Palatina antara Suku Dayak Bukit, duku Banjar Hulu dan Suku Dayak Ngaju. Proseeding Anual Scientific Meeting. 2017. The Indonesian Assciatin fo Forensic Medicine.

Kamrani, Buseri. (2011). Budaya Spiritual Kesultanan Banjar: Historisitas dan Relevansinya di Masa Kini. Al- Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu- Ilmu Keislaman. Volume 10 (01). 173-184.

Kennedy, Raymond. (1974). Bibliography of Indonesia People and Culture. Ithaca. Southeast Asia Student, Yale University.

Mahmud. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Masri, Singarimbun. (1991). Beberapa Aspek Kehidupan Masyarakat Dayak. Jurnal Humaniora, journal.ugm.ac.id

Morris, B. (2014). The Impact of Culture and Ethnicity on the counseling Prosess: Prespectives of Genetic Counselors from Minority Ethnic Groups. University of South Carolina.

Roim, Sarbaini, dan Heru Puji Winarso. (2018). Identifikasi dan Aturan- Aturan Sosial pada Masyarakat Sungai Jingah Kelurahan Surgi Mufti Kota Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan. Volume 08, (01). 99- 114.

Normuslim. (2018). Kerukunan Antar Umat Beragama Keluarga Suku Dayak Ngaju di Palangkaraya. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya. Volume 03 Nomor (01). 67-90.

Pradita E Marcelellina. (2013). Tato Sebagai Sebuah Media Komunikasi Non Verbal Suku Dayak Bahau. Jurnal Ilmu Komunikasi, ejurnal.ikom.fisip-unmul.so.id.

Radam, (1987). Religi Orang Bukit: Suatu Lukisan Struktur dan fungsi dalam Kehidupan Sosial Ekonomi. Universitas Indnesia.

Rahmitiasari, Antariksa, dan Kartika Eka Sari. (2014). Perubahan Hadap Bangunan Pada Permukiman Tradisional di Tepi Sungai Kuin Utara, Banjarmasin. Jurnal Palinning for Urban and Environment. Volume 01 (01).

Rizqi, & Pitri, (2017). Potret Perempuan Dayak Iban, Kayan, dan Sungkung Kalimantan Barat. Specta: Jurnal of Photography, Art, and Media. Volume 01 (01). 51-68.

Riswanto Dody, Andi Mappiare, dan Mohammad Irtadji. (2017). Kompetensi Multukultural Konselor pada Kebudayaan Suku Dayak Kalimantan Tengah. JOMSIGN: Jurnal of Multicultural Studies in Guidance and Counseling.

Raisa, Alman, & Solehun. (2019). Alkuturasi Masyarakat Lokal dan Pendatang di Papua Barat. Jurnal Antropologi: Isu- Isu Sosial Budaya. Volume 21 (01). 29- 37

Rousseau, Jerome. (1990). Central Borneo; Ethnic Identity and Social Life in a Stratified Society. Oxford, Clarendon Press.

Olviana, Sugandi, & Sabiruddin. (2019). ‘Makna Pesan Ukiran Arit Linawa pada Masyarakat Dayak Lundayeh Kalimantan Utasa’. ejurnal Ilmu Komunikasi.’ Volume 7 (02). 42-53.

Santosa & Bahtiar. (2016). ‘Mandau Senjata Tradisional Sebagai Pelestari Rupa Lingkungan Dayak’. Jurnal Seni dan Desain Sastra. Volume 2 (02). 47- 56.

Soekanto, Soerjono. (1982). Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Sulang K. (2011). Budaya Dayak: Permasalahan dan alternatifnya. Malang: Bayumedia Publishing.

Suwarno. (2017). Budaya Huma Betang Masyarakat Dayak Kalimantan Tengah dalam Globalisasi: Telaah Kontruksi Sosial. LINGUA: Center of Language and Culture Studies, Surakarta, Indonesia. Volume 14. (01). 89-102.

Usop Tari Budayanti. (2014). Pelestarian Arsitektur Tradisional Dayak pada Pengenalan Ragam Bentuk Konsruksi dan Teknologi Tradisional Dayak di Kalimantan Tengah. Jurnal Prespektif Arsitektur.

Yolla Ramadani & Astrid Qommaneeci. (2020). Tradisi Wisuda Secara Adat di Masyarakat Lekuk 50 Tumbi Lempur Kabupaten Kerinci. Jurnal Antropologi: Isu- Isu Sosial Budaya. Volume 22 (01). 29-37.

StatisticsStatistik Artikel

Artikel ini sudah dibaca : 830 kali
Dokumen Pdf sudah dibaca/diunduh : 1 kali