Tradisi Bona Taon Suku Batak di Perkotaan (Medan, Jakarta, Surabaya dan Denpasar): Antara Kekerabatan dan Citra

Author(s)
Mangihut Siregar (Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Surabaya, East Java.)
Abstract

Kinship is essential for the Toba Batak tribe. To maintain kinship, good relations between those who live in the area of origin and those who live in the overseas (urban) areas are always maintained. This sound kinship brings traditions from the area of origin to the overseas area. One of the exciting traditions to study is the Bona Taon. This tradition has long been lost in the area of origin but is increasingly existent in urban areas. The Bona Taon tradition was lost because of the prohibition by the Dutch colonialists. This study examines the Bona Taon tradition of urban-plan models using globalization theory and hypersemiotic theory. The results show that the Bona Taon tradition carried out by the Batak tribe in urban areas aims to strengthen kinship relationships that are full of images. In practice, this tradition has changed from what was originally sacred to only entertainment.

Keywords
Image; kinship; consumerism; bona taon tradition.
Klik untuk membaca artikel penuh
Pdf
References

Anggraeni, Suci. (2017). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya: Ferdinand De Saussure, Roland Barthes, Julia Kristeva, Jacques Derrida, Charles Sanders Peirce, Marcel Danesi & Paul Perron, dll. Metalingua. 15(1). http://dx.doi.org/10.26499/metalingua.v15i1.160

Bakti, Indra, S. Dkk. (2020). Pamer Kemewahan: Kajian Teori Konsumsi Thorstein Veblen. Jurnal Sosiologi USK, 14 (1), 81-98. DOI: https://doi.org/10.24815/jsu.v14i1.18109

Baudrillard, Jean. (1981). For a Critique of the Politik of the Sign. (Charles Levin, Terjemahan). New York: Tellos Press.

Baudrillard, Jean. (1998). The Consumer Society: Myths and Structures. London: Sage Publication.

Bourdieu, Pierre. (1991). Language and symbolic Power. Cambridge: Polity Press.

Bourdieu, Pierre. (2015). Arena Produksi Kultural: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya. (Yudi Santoso, Terjemahan). Bantul: Kreasi Wacana Offset.

Bruner, Edward. (2017). “Kerabat dan Bukan Kerabat”. Dalam T.O. Ihromi (Ed). Pokok-pokok Antropologi Budaya. (hlm. 203-230). Jakarta: Gramedia.

Butarbutar, Rut D. (2020). Dalihan Na Tolu sebagai Kekerabatan Batak Toba dan Rekonstruksinya Berdasarkan Teologi Persahabatan Kekristenan. Dharmasmrti Jurnal Ilmu Agama & Kebudayaan, 20 (2), 21-28.

Eni, Sri Pare. (2017). Pelestarian Permukiman Rumah Tradisional Batak Toba Di Desa Jangga Dolok, Sumatera Utara. Jurnal Arsitektur. 5(1). 1-13

Febriani, R & Riyanto, Edi D. (2021). Upacara Adat Tengger di Ambang Komodifikasi: Merawat Tradisi dari Ancaman Desakralisasi. JANTRO Jurnal Antropologi 23(2). https://doi.org/10.25077/jantro.v23.n2.p148-156.2021

Firmando, Harisan B. (2021). Kearifan Lokal Sistem Kekerabatan Dalihan Na Tolu Dalam Merajut Harmoni Sosial Di Kawasan Danau Toba. Aceh Anthropological Journal. 5(1), 16-36

Habeahan, Maria A., dkk. (2020). Melampaui Kedirian Identitas Batak Melalui Ritual dan Sejarah Masyarakatnya atas Inpirasi Levinas. Jurnal Simbolika: Research and Learning in Communication Study, 6 (2), 174-189). DOI : https://doi.org/10.31289/simbollika.v6i2.4135

Harahap, Desniati (2016). Implikasi Sistem Kekerabatan Dalihan Na Tolu (Studi pada Keluarga Urban Muslim Batak Angkola di Yogtakarta). Religi, 12 (1), 121-134. https://doi.org/10.14421/rejusta.2016.1201-07.

Hidayat, dan Erond L. D. (2018). Batak dan Bukan Batak: Paradigma Sosiohistoris tentang Konstruksi Identitas Etnik di Kota Medan, 1906-1939. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 3 (2), 71-87.

Nainggolan, Riris. (2019). Peran Dalihan Na Tolu Dalam Pelaksanaan Upacara Perkawinan Masyarakat Batak Toba. JOM FISIP. 6(1). 1-13

Pasaribu, Amudi. (2011). Pembangunan Tugu Dipandang dari Segi Sosial-Ekonomi. Dalam Bungaran Antonius Simanjuntak (Ed). Pemikiran Tentang Batak Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara (hlm. 247-254). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Piliang, Yasraf. (2018). Semiotika dan Hipersemiotika: Kode Gaya dan Matinya Makna. Bandung: Matahari.

Ritzer, George. (2010). Teori Sosial Postmodern. (Muhammad Taufik, Terjemahan). Bantul: Kreasi Wacan Offset.

Saharudin, S., Sukri, S., & Arrozi, P. (2021). Penandaan-Kebahasaan Tentang Transformasi Sosial-Budaya Komunitas Adat Sade dan Pariwisata Selama Pandemi COVID-19. JANTRO Jurnal Antropologi. 23(1). 9-17. https://doi.org/10.25077/jantro.v23.n1.p9-17.2021

Schreiner, Lothar. (2002). Adat dan Injil. (P.S. Naipospos, Terjemahan). Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Sibarani, Robert. (2012). Kearifan Lokal: Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.

Sidjabat, W. Bonar. (1982). Ahu Si Singamangaraja: Arti Historis, Politis, Ekonomis dan Religius Si Singamangaraja XII. Jakarta: Sinar Harapan.

Sihombing, Adison A. (2018). Mengenal Budaya Batak Toba melalui Falsafah “Dalihan Na Tolu” (Perpektif Kohesi dan Kerukunan). Jurnal Lektur Keagamaan, 16 (2), 347-371. https://doi.org/10.31291/jlk.v16i2.553.

Simanjuntak, Bungaran Antonius. (2016). Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba Hingga 1945: Suatu Pendekatan Sejarah, Antropologi Budaya Politik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Siregar, Mangihut. (2017). “Ketidaksetaraan Gender dalam Dalihan na Tolu.” Jurnal Studi Kultural, 3 (1), 13-15.

Siregar, Mangihut. (2020). Commodification Of The Mangalahat Horbo Bius Ritual on The Samosir Island North Sumatra: A Controversial Show. Mozaik Humaniora. 20(2). http://dx.doi.org/10.20473/mozaik.v20i2.18709

Siregar, Mangihut. (2019a). Konsumerisme Upacara Perkawinan Batak Toba. Lamongan: Pagan Press.

Siregar, Mangihut. (2019b). “Marriage Ceremony in Batak Toba Tribe: Between Consumerism and Purpose of Life.” International Journal of Applied Science, 2 (3), 40-50. DOI: https://doi.org/10.30560/ijas.v2n3p40

Situmorang, Nelita Br. (2017). Eksistensi Agama Lokal Parmalim. JOM FISIP. 4(1). 1 – 15

StatisticsStatistik Artikel

Artikel ini sudah dibaca : 97 kali
Dokumen Pdf sudah dibaca/diunduh : 1 kali